KMINews.com — Saham merupakan salah satu instrumen investasi yang banyak digunakan masyarakat untuk mengembangkan aset dalam jangka panjang. Namun, bagi pemula, istilah saham masih sering menimbulkan pertanyaan: apa sebenarnya saham, bagaimana cara kerjanya, dan dari mana keuntungan investor berasal?
Artikel ini membahas pengertian saham, jenis-jenisnya, cara memperoleh keuntungan, hingga risiko yang perlu dipahami sebelum mulai berinvestasi.
Apa Itu Saham?
Saham adalah bukti kepemilikan seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan.
Ketika seseorang membeli saham sebuah perusahaan, investor tersebut pada dasarnya memiliki sebagian kecil kepemilikan atas perusahaan sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya.
Sebagai contoh, apabila sebuah perusahaan memiliki 1 miliar lembar saham dan seorang investor mempunyai 10 juta lembar saham, maka investor tersebut memiliki sekitar 1% kepemilikan pada perusahaan tersebut.
Di Indonesia, saham perusahaan terbuka diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor dapat membeli dan menjual saham melalui perusahaan sekuritas yang menyediakan layanan perdagangan saham.
Mengapa Perusahaan Menjual Saham?
Perusahaan membutuhkan modal untuk menjalankan dan mengembangkan bisnis. Salah satu cara memperoleh modal adalah menerbitkan saham kepada masyarakat melalui Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum perdana.
Dana yang diperoleh dari penerbitan saham dapat digunakan perusahaan untuk berbagai kebutuhan, seperti:
- Ekspansi usaha.
- Membangun fasilitas baru.
- Membeli aset.
- Menambah modal kerja.
- Membayar sebagian kewajiban.
- Mengembangkan produk dan layanan.
- Membiayai kegiatan operasional tertentu.
Setelah saham tercatat di bursa, saham tersebut dapat diperdagangkan antar-investor di pasar sekunder.
Bagaimana Investor Mendapatkan Keuntungan dari Saham?
Ada dua sumber keuntungan utama yang biasanya diperoleh investor saham, yaitu capital gain dan dividen.
1. Capital Gain
Capital gain merupakan keuntungan yang diperoleh ketika investor menjual saham dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga pembeliannya.
Contohnya, seorang investor membeli saham pada harga Rp1.000 per lembar.
Kemudian harga saham meningkat menjadi Rp1.300 dan investor menjual saham tersebut.
Keuntungan kotor yang diperoleh adalah:
Rp1.300 – Rp1.000 = Rp300 per saham
Jika investor memiliki 1.000 lembar saham, keuntungan kotornya menjadi Rp300.000 sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan ketentuan pajak yang berlaku.
Sebaliknya, apabila saham dijual di bawah harga pembelian, investor mengalami capital loss.
2. Dividen
Dividen merupakan pembagian sebagian laba perusahaan kepada pemegang saham sesuai keputusan dan ketentuan yang berlaku.
Tidak semua perusahaan membagikan dividen setiap tahun. Keputusan pembagian dividen dipengaruhi oleh kondisi keuangan perusahaan, kebutuhan ekspansi, kebijakan manajemen, serta keputusan pemegang saham dalam RUPS.
Misalnya perusahaan membagikan dividen Rp50 per saham dan investor memiliki 2.000 saham.
Maka dividen bruto yang diterima:
2.000 × Rp50 = Rp100.000
Besarnya dividen yang diterima investor juga dapat dipengaruhi oleh ketentuan perpajakan yang berlaku.
Jenis-Jenis Saham
Secara umum, saham dapat dibedakan berdasarkan karakteristik dan hak yang melekat pada saham tersebut.
Saham Biasa
Saham biasa merupakan jenis saham yang paling umum. Pemegangnya memiliki hak atas bagian kepemilikan perusahaan dan pada kondisi tertentu memiliki hak suara dalam RUPS.
Keuntungan pemegang saham biasa dapat berasal dari kenaikan harga saham dan dividen.
Saham Preferen
Saham preferen memiliki karakteristik tertentu yang memberikan hak atau prioritas berbeda dibandingkan saham biasa, misalnya terkait pembagian dividen.
Namun, karakteristik saham preferen dapat berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya berdasarkan ketentuan penerbitannya.
Apa Itu Harga Saham?
Harga saham merupakan harga yang terbentuk dari proses transaksi antara pembeli dan penjual di pasar.
Harga dapat berubah setiap saat selama perdagangan berlangsung karena dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran.
Ketika permintaan terhadap suatu saham lebih besar dibandingkan pasokannya, harga berpotensi meningkat. Sebaliknya, tekanan jual yang lebih besar dapat menyebabkan harga turun.
Selain faktor permintaan dan penawaran, harga saham juga dapat dipengaruhi oleh:
- Kinerja keuangan perusahaan.
- Prospek bisnis.
- Kondisi ekonomi.
- Suku bunga.
- Nilai tukar rupiah.
- Kondisi industri.
- Kebijakan pemerintah.
- Sentimen investor.
- Aksi korporasi.
- Kondisi pasar saham global.
Apa Itu Saham Gocap?
Istilah saham gocap sering digunakan investor Indonesia untuk menyebut saham yang berada pada harga Rp50 per lembar.
Istilah ini berasal dari kata “gocap” yang dalam penggunaan sehari-hari merujuk pada angka 50.
Saham berharga rendah sering menarik perhatian trader karena perubahan harga yang kecil dapat menghasilkan perubahan persentase yang relatif besar.
Namun, harga Rp50 tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah sebuah saham murah atau mahal.
Investor tetap perlu melihat kapitalisasi pasar, jumlah saham beredar, aset, utang, pendapatan, laba, arus kas, serta prospek bisnis perusahaan.
Apa Risiko Investasi Saham?
Meskipun saham dapat memberikan keuntungan, investasi saham juga memiliki risiko.
Risiko Penurunan Harga
Harga saham dapat turun akibat kondisi perusahaan maupun sentimen pasar. Jika investor menjual saham di bawah harga pembelian, investor mengalami kerugian.
Risiko Likuiditas
Tidak semua saham memiliki transaksi yang ramai. Saham dengan likuiditas rendah dapat membuat investor lebih sulit menjual saham pada harga yang diinginkan.
Risiko Perusahaan
Kinerja perusahaan dapat memburuk akibat persaingan, penurunan penjualan, peningkatan utang, masalah operasional, perubahan regulasi, atau berbagai faktor lainnya.
Dalam kondisi ekstrem, perusahaan dapat mengalami kesulitan keuangan hingga gagal memenuhi kewajibannya.
Risiko Pasar
Pergerakan IHSG, kondisi ekonomi, suku bunga, geopolitik, dan sentimen investor dapat memengaruhi harga saham secara keseluruhan.
Bagaimana Cara Membeli Saham?
Untuk membeli saham di Indonesia, investor umumnya perlu membuka rekening pada perusahaan sekuritas.
Secara sederhana, prosesnya meliputi:
- Memilih perusahaan sekuritas yang resmi.
- Membuka rekening efek dan rekening dana nasabah (RDN).
- Menyetorkan dana ke RDN.
- Memilih saham berdasarkan analisis dan tujuan investasi.
- Memasukkan order beli melalui aplikasi perdagangan saham.
- Menunggu transaksi berhasil.
- Memantau investasi secara berkala.
Investor sebaiknya memastikan perusahaan sekuritas yang digunakan memiliki izin dan mengikuti ketentuan regulator.
Bagaimana Memilih Saham untuk Investasi?
Pemula sebaiknya tidak memilih saham hanya karena harganya terlihat murah.
Beberapa aspek yang dapat diperhatikan antara lain:
Fundamental perusahaan
Periksa pendapatan, laba, aset, utang, arus kas, dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.
Valuasi
Rasio seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk menilai valuasi, tetapi sebaiknya tidak digunakan sendirian.
Prospek bisnis
Perhatikan apakah produk dan jasa perusahaan memiliki peluang pertumbuhan dalam jangka panjang.
Manajemen
Kualitas manajemen dan tata kelola perusahaan juga penting karena keputusan manajemen dapat memengaruhi kinerja bisnis.
Likuiditas
Saham dengan transaksi yang lebih aktif biasanya memiliki kemudahan transaksi yang lebih baik dibandingkan saham yang sangat sepi.
Saham Cocok untuk Investasi Jangka Panjang?
Saham dapat digunakan sebagai salah satu instrumen investasi jangka panjang, tetapi tidak semua saham cocok untuk setiap investor.
Investor perlu menyesuaikan pilihan saham dengan:
- Tujuan investasi.
- Jangka waktu.
- Kemampuan menanggung risiko.
- Kondisi keuangan.
- Pengetahuan mengenai pasar modal.
Untuk investasi jangka panjang, investor biasanya lebih memperhatikan kualitas bisnis dan fundamental perusahaan dibandingkan sekadar fluktuasi harga harian.
Kesimpulan
Saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Dengan membeli saham perusahaan terbuka, investor memiliki bagian kepemilikan sesuai jumlah saham yang dimiliki.
Keuntungan investasi saham dapat berasal dari capital gain dan dividen, tetapi keduanya tidak dijamin. Harga saham juga dapat mengalami penurunan sehingga investor berpotensi mengalami kerugian.
Karena itu, sebelum membeli saham, investor sebaiknya memahami bisnis perusahaan, membaca laporan keuangan, mempertimbangkan valuasi, memperhatikan risiko, dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan rumor atau pergerakan harga jangka pendek.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi. Isi artikel bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap investasi memiliki risiko, dan keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.





