KMINews.com – Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) kembali mengalami tekanan jual pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Harga saham emiten properti tersebut turun 14,28% ke level Rp24 per saham dan tercatat mengalami Auto Rejection Bawah (ARB) selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Tekanan jual yang masih tinggi terlihat dari antrean penjualan saham DADA yang mencapai sekitar 1,41 juta lot pada harga Rp24 per saham. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat jual di level harga tersebut masih besar dibandingkan permintaan beli yang tersedia.
Berdasarkan data perdagangan yang dikutip dalam informasi yang menjadi bahan pemberitaan ini, nilai transaksi saham DADA mencapai Rp4,28 miliar dengan frekuensi perdagangan sebanyak 3.338 kali.
Penurunan tersebut terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan perubahan batas minimum harga saham, yang sebelumnya dikenal dengan istilah harga gocap atau Rp50 per saham.
Saham DADA Tertekan Setelah Aturan Harga Minimum Berubah
Perubahan ketentuan perdagangan saham BEI membuka kemungkinan bagi saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 untuk diperdagangkan pada harga yang lebih rendah, sesuai mekanisme perdagangan dan ketentuan yang berlaku.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari implementasi tahap awal Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00136/BEI/09-2026 tentang Perubahan Peraturan Nomor II-A mengenai Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.
Dengan perubahan tersebut, batas harga saham tidak lagi terbatas pada Rp50 per saham. Harga saham dapat bergerak ke level yang lebih rendah hingga batas minimum baru, yakni Rp1 per saham, sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi saham DADA, perubahan mekanisme ini terjadi ketika tekanan jual masih kuat. Penurunan harga yang berlangsung beberapa hari berturut-turut membuat saham tersebut menjadi perhatian pelaku pasar, khususnya investor yang memiliki saham pada harga lebih tinggi.
Pernah Melonjak hingga Rp67 per Saham
Kondisi DADA saat ini berbeda dengan pergerakan saham tersebut pada awal 2026. Pada periode itu, DADA sempat mengalami lonjakan harga hingga Rp67 per saham, disertai antrean beli yang dilaporkan mencapai lebih dari 6 juta lot.
Kenaikan harga tersebut juga diikuti oleh bertambahnya jumlah investor yang memiliki saham DADA.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang tercantum dalam bahan pemberitaan, jumlah pemegang saham DADA per 30 November 2025 mencapai 73.893 investor. Angka tersebut meningkat sebanyak 3.404 Single Investor Identification (SID) dibandingkan bulan sebelumnya.
Jumlah pemegang saham kemudian dilaporkan meningkat menjadi 98.288 SID pada Agustus 2026, mendekati 100 ribu investor.
Peningkatan jumlah investor tersebut menunjukkan bertambahnya partisipasi pemegang saham. Namun, jumlah investor yang besar tidak dengan sendirinya menjamin stabilitas harga, likuiditas, maupun kinerja fundamental suatu saham.
Rumor Akuisisi Pernah Menjadi Sorotan
Pergerakan saham DADA sebelumnya juga dikaitkan dengan rumor mengenai kemungkinan akuisisi oleh The Vanguard Group, perusahaan manajemen investasi asal Amerika Serikat.
Namun, rumor tersebut perlu dibedakan dari informasi resmi perusahaan. Tanpa keterbukaan informasi yang dapat diverifikasi, kabar mengenai rencana akuisisi tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa transaksi tersebut benar-benar akan terjadi.
Dalam pemberitaan sebelumnya yang dirujuk sebagai bahan artikel ini, reli harga DADA disebut berlangsung di tengah rumor tersebut. Sementara itu, penurunan harga berikutnya memperlihatkan besarnya risiko yang dapat dihadapi investor ketika harga saham bergerak tajam dan sentimen pasar berubah.
Klaim mengenai pelepasan saham oleh investor institusi maupun komposisi kepemilikan terkini juga perlu diperiksa melalui data kepemilikan saham dan keterbukaan informasi resmi agar dapat dipastikan secara akurat.
Analisis: Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?
Tekanan jual DADA selama lima hari berturut-turut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan investor. Meski demikian, kondisi tersebut tidak cukup untuk memastikan apakah harga akan kembali turun, bergerak mendatar, atau mengalami pemulihan.
Ada beberapa faktor yang patut dicermati:
- Antrean jual: Antrean sekitar 1,41 juta lot di harga Rp24 menunjukkan besarnya penawaran jual yang tercatat pada level tersebut. Namun, antrean dapat berubah selama perdagangan dan tidak menjamin seluruh pesanan akan tetap tersedia.
- Risiko volatilitas: Pergerakan harga yang tajam dapat meningkatkan risiko kerugian, terutama bagi investor yang membeli saham pada harga jauh lebih tinggi.
- Kinerja fundamental: Investor perlu menilai laporan keuangan, kondisi bisnis properti, kewajiban perusahaan, arus kas, dan prospek usaha DADA, bukan hanya mengandalkan pergerakan harga.
- Keterbukaan informasi: Informasi resmi mengenai aksi korporasi, perubahan pengendali, atau rencana akuisisi perlu menjadi rujukan sebelum mengambil keputusan investasi.
- Likuiditas dan eksekusi transaksi: Antrean jual yang besar dapat memengaruhi kemampuan investor menjual saham pada harga yang diinginkan. Harga yang terlihat di layar tidak menjamin pesanan akan langsung terlaksana.
Perubahan batas minimum harga saham juga tidak berarti bahwa setiap saham yang mengalami penurunan pasti akan mencapai Rp1. Pergerakan selanjutnya bergantung pada permintaan dan penawaran, sentimen pasar, serta informasi yang memengaruhi emiten.
Kesimpulan
Saham DADA menghadapi tekanan jual yang berlanjut pada 2 Oktober 2026, dengan harga berada di Rp24 per saham dan antrean jual yang dilaporkan mencapai 1,41 juta lot. Riwayat lonjakan harga pada awal 2026 serta peningkatan jumlah pemegang saham menjadi latar belakang penting untuk memahami perhatian pasar terhadap emiten ini.
Investor perlu membedakan pergerakan harga jangka pendek dari kondisi fundamental perusahaan. Verifikasi informasi resmi, pemahaman terhadap risiko likuiditas, dan penilaian terhadap kemampuan bisnis menghasilkan arus kas tetap menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan investasi.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham DADA maupun rekomendasi investasi. Data perdagangan dan kepemilikan saham mengacu pada bahan yang tersedia dan perlu diverifikasi kembali melalui sumber resmi BEI, KSEI, serta keterbukaan informasi perusahaan. Investasi saham mengandung risiko, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian atau seluruh modal.





